Robotika

Blog komunitas Robot Universitas Gunadarma

Kursi Roda Dengan Laser Vision


Perkembangan teknologi robotik secara esensi seperti teknologi lainnya adalah sebagai alat untuk membantu segala keperluan manusia tak terkecuali bagi orang cacat sekalipun. Dengan kursi roda yang tidak dikendalikan oleh manusia atau remote namun dengan keadaan lingkungan sekitar kota ini adalah alat yang sangat baik digunakan bagi orang buta. John Spletzer dari Lehigh University Bethlehem, Pennsylvania berpendapat bahwa teknologi dapat diibaratkan seperti tangan, kaki, atau mata sebagai kemampuan untuk beriteraksi dengan lingkungan sekitar. Dari penemuannya ini Spletzer mendapat penghargaan CAREER Award dari National Science Foundation (NSF) karena pengembang Robotic Wheelchair ini.

Dilengkapi dengan Laser ketelitian tinggi dan peta yang mendetail, membuat Kursi Roda ini dapat menghindari parking meter, pejalan kaki, atau Pengendara sepeda. Sehingga dapat mempermudah penguna  yang memiliki kekurangan pada penglihatan untuk melakukan aktifitas seperti ke apotik ataupun membeli makanan.

Sebelum mengembangakan teknologi kursi roda ini, Speletzer dan dua mahasiswanya telah melakukan perubahan pada Toyota Prius menjadi robot yang dilengakapi dengan laser dan kamera sensor sehingga menjadikan kendaraan tanpa pengemudi.

Membantu robot untuk “melihat”

Menurut John Spletzer agar robot dapat “melihat” dan merespon terhapadap lingkungan pada saat berkeliling di sebuah kota ada dua hal yang penting yaitu :

  • Sensors yang diperlukan untuk mengetahui dan mengenali tanda-tanda penting
  • Sekumpulan data yang terorganisasi dengan peta yang nampak di mana penanda penting itu berada.

Spletzer dan mahasiswanya memanfaatkan teknologi yang diperkenalkan oleh google yaitu Google Street View dimana dengan memanfaatkannya penguna dapat melaukan virtual tours setiap detail kota, yang di negara seperti Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan kota-kota besar lainnya telah terpasang Google Street View untuk Indonesia sampai saat ini belum terpasang Google Street View. Kembali lagi, dengan gambar yang di tangkap oleh Google Street View ini digunakan oleh robots untuk mendeteksi daerah sekitar dengan lasernya. Karena menurut Spletzer robot tidak dapat melihat seperti penglihatan yang di miliki manusia.

dan Spletzer menambahkan “To create Google Street View, people drive vehicles around cities, take thousands of images and make maps. We’re making similar maps that are useful for robots, not people. Our robots respond to different cues than humans respond to. Whereas people see the real world and all its details, robots using lasers recognize things like poles and building corners that reduce to a very exact point and are thus easy to track.”

Spletzer dan mahasiswanya mengunakan teknologi LIDAR (Light Detection And Ranging) pada kursi rodanya dan mereka mencoba dengan membuat peta 3D di Bethlehem dan arena parkir kampus Lehigh. Seperti yang dikatakan oleh Spletzer “We have a server vehicle drive around and make a hi-fi 3-D map of the environment,” “The robotic wheelchair can download this map and navigate the environment, halfway in the real world, halfway in the virtual world”. Sehingga robot dapat mengenali objek barunya dengan membandingkan data-data yang telah diorganisir dengan baik.

  • Menurut saya kendala pemasaran pada robot ini adalah biaya yang tidak murah untuk penjualannya dapat mencapai $ 250.000 sehingga Spletzer memohon untuk diadakannya otonomi untuk robot ini.
  • Hanya dapat digunakan bagi daerah yang sudah terpasang Google Street View.
  • Harus Selalu Koneksi Internet, karena jika suatu saat terjadi masalah pada koneksi internet dapat membahayakan pengguna.

Sekian dari saya semoga bermanfaat

Karya :

Miftah Hazmi



Leave a Reply

Security Code: